Jumat, 01 Juni 2012

PRODUKTIVITAS 1


PRODUKTIVITAS 

A.    Vegetasi Daratan  dan Daur Karbon
Vegetasi (dari bahasa Inggris: vegetation) dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi biasa dilakukan oleh ilmuwan ekologi untuk mempelajari kemelimpahan jenis serta kerapatan tumbuh tumbuhan pada suatu tempat.
Tipe vegetasi Daratan sedang masih didominasi oleh jenis-jenis dari family Dippterocarpaceae seperti Meranti (Shorea sp), Resak (Vatica sp) dan Kapur (Driyobalanops sp). Jenis lainnya adalah Ubah (Syigium sp), Medang (Litsea sp), Bintangor (Callophylum inofilum) dan Durian burung (Durian carinatus)
Pada Tipe Vegetasi Daratan Tinggi masih ditumbuhi berbagai jenis meranti. Jenis lain yang khas pada tipe vegetasi ini adalah jenis Cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan Ubah ribu (Syzigium sp). Perbedaan yang terlihat jelas pada tipe vegetasi ini adalah munculnya lumut-lumut hijau di setiap batang tumbuhan. Pada tipe vegetasi Puncak Pegunungan, ukuran tumbuhan semakin kecil dan lumut-lumut hijau semakin tebal menempel di kulit pohon. Di antaranya jenis Cemara gunung (Casuarina junghuniana), Pandan (Pandanus sp), Rotan (Calamus sp) dan beraneka ragam jenis Kantong semar (Nephentes sp). 

Siklus Karbon
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).
Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahunan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer.
Neraca karbon global adalah kesetimbangan pertukaran karbon (antara yang masuk dan keluar) antar reservoir karbon atau antara satu putaran (loop) spesifik siklus karbon (misalnya atmosfer - biosfer). Analisis neraca karbon dari sebuah kolam atau reservoir dapat memberikan informasi tentang apakah kolam atau reservoir berfungsi sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon dioksida.

Daur karbon
         




Diagram dari siklus karbon. Angka dengan warna hitam menyatakan berapa banyak karbon tersimpan dalam berbagai reservoir, dalam milyar ton ("GtC" berarti Giga Ton Karbon). Angka dengan warna biru menyatakan berapa banyak karbon berpindah antar reservoir setiap tahun. Sedimen, sebagaimana yang diberikan dalam diagram, tidak termasuk ~70 juta GtC batuan karbonat dan kerogen.
Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon dioksida (CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar, meskipun sedang mengalami kenaikan), namun ia memiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global.

Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara:
Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat, dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat.
Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut (lihat bagian solubility pump).
Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon, beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah (lihat bagian biological pump).
Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction).
Karbon dapat kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu:
Melalui pernafasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air.
Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen.
Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap). Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan (petroleum), dan gas alam akan melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama jutaan tahun di dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer.
Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang banyak.
Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer.
Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat; Kedua proses kimia ini yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan yang sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari 100.000 tahun.

Karbon di biosfer
Sekitar 1900 gigaton karbon ada di dalam biosfer. Karbon adalah bagian yang penting dalam kehidupan di Bumi. Ia memiliki peran yang penting dalam struktur, biokimia, dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup. Dan kehidupan memiliki peranan yang penting dalam siklus karbon:
a. Autotroph adalah organisme yang menghasilkan senyawa organiknya sendiri dengan menggunakan karbon dioksida yang berasal dari udara dan air di sekitar tempat mereka hidup. Untuk menghasilkan senyawa organik tersebut mereka membutuhkan sumber energi dari luar. Hampir sebagian besar autotroph menggunakan radiasi matahari untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, dan proses produksi ini disebut sebagai fotosintesis. Sebagian kecil autotroph memanfaatkan sumber energi kimia, dan disebut kemosintesis. Autotroph yang terpenting dalam siklus karbon adalah pohon-pohonan di hutan dan daratan dan fitoplankton di laut. Fotosintesis memiliki reaksi 6CO2 + 6H2O → C6H12O6 + 6O2
b. Karbon dipindahkan di dalam biosfer sebagai makanan heterotrop pada organisme lain atau bagiannya (seperti buah-buahan). Termasuk di dalamnya pemanfaatan material organik yang mati (detritus) oleh jamur dan bakteri untuk fermentasi atau penguraian.
c. Sebagian besar karbon meninggalkan biosfer melalui pernafasan atau respirasi. Ketika tersedia oksigen, respirasi aerobik terjadi, yang melepaskan karbon dioksida ke udara atau air di sekitarnya dengan reaksi C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O. Pada keadaan tanpa oksigen, respirasi anaerobik lah yang terjadi, yang melepaskan metan ke lingkungan sekitarnya yang akhirnya berpindah ke atmosfer atau hidrosfer.
d. Pembakaran biomassa (seperti kebakaran hutan, kayu yang digunakan untuk tungku penghangat atau kayu bakar, dll.) dapat juga memindahkan karbon ke atmosfer dalam jumlah yang banyak.
e. Karbon juga dapat berpindah dari bisofer ketika bahan organik yang mati menyatu dengan geosfer (seperti gambut). Cangkang binatang dari kalsium karbonat yang menjadi batu gamping melalui proses sedimentasi.
f. Sisanya, yaitu siklus karbon di laut dalam, masih dipelajari. Sebagai contoh, penemuan terbaru bahwa rumah larvacean mucus (biasa dikenal sebagai "sinkers") dibuat dalam jumlah besar yang mana mampu membawa banyak karbon ke laut dalam seperti yang terdeteksi oleh perangkap sedimen. Karena ukuran dan kompisisinya, rumah ini jarang terbawa dalam perangkap sedimen, sehingga sebagian besar analisis biokimia melakukan kesalahan dengan mengabaikannya.
Penyimpanan karbon di biosfer dipengaruhi oleh sejumlah proses dalam skala waktu yang berbeda: sementara produktivitas primer netto mengikuti siklus harian dan musiman, karbon dapat disimpan hingga beberapa ratus tahun dalam pohon dan hingga ribuan tahun dalam tanah. Perubahan jangka panjang pada kolam karbon (misalnya melalui de- atau afforestation) atau melalui perubahan temperatur yang berhubungan dengan respirasi tanah) akan secara langsung mempengaruhi pemanasan global.

Siklus karbon adalah karbon aliran dalam dan antara empat bidang planet kita.
a. Wilayah pertama yang akan kita diskusikan adalah biosfer biosfer terestrial darat yang mencakup semua organisme hidup seperti tumbuhan dan hewan yang hidup di luar lautan.
b. Atmosfer adalah lapisan gas yang mengelilingi bumi, apa yang biasanya kita sebut sebagai "udara".
c. Samudera mencakup semua air dan organisme hidup dan zat-zat tak-hidup di dalamnya.
d. geosfer mencakup semua tanah, sedimen seperti deposit minyak dan batu.

Pembabatan hutan untuk pertanian menyebabkan 90% pengurangan karbon yang tertahan dalam jaringan hidup dan 20-50% yang terdapat dalam karbon tanah. Penggunaan bahan bakar fosil dan pembabatan hutan menjadikan konsentrasi CO2 naik 1 ppm pada laju tahunan. Konsentrasi lokal dapat dapat melebihi 400 ppm pada area pembakaran bahan bakar fosil yang tinggi dan kondisi topogarfi yang menghalangi percampuran udara. Kenaikan tersebut terus belangsung sementara penggunaan bahan bakar fosil meningkat dan pembabatan cukup menonjol.

Arti penting vegetasi dalam pola global CO2 dimana oscilasi tahunan dalam CO2 dapat ditambahkan secara eksklusif terhadap daur tahunan produktivitas bersih hutan zona temperate. Level CO2 tertinggi pada Mauna Loa didapatkan pada musim dingin, bila hutan temate dalam keadaan dorman, dan terendah pada musim panas, bila laju fotosintesis tertinggi. Kenaikan level CO2 akan mengandung laju fiksasi fotosintetik oleh tumbuhan C3.  

B.     Model Aliran  Energi
Energi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja. Energi diperoleh organisme dari makanan yang dikonsumsinya dan dipergunakan untuk aktivitas hidupnya.  Cahaya matahari merupakan sumber energi utama kehidupan. Tumbuhan berklorofil memanfaatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis. Organisme yang menggunakan energi cahaya untuk merubah zat anorganik menjadi zat organik disebut kemoautotrof. Organisme yang menggunakan energi yang didapat dari reaksi kimia untuk membuat makanan disebut kemoautotrof. Energi yang tersimpan dalam makanan inilah yang digunakan oleh konsumen untuk aktivitas hidupnya. Pembebasan energi yang tersimpan dalam makanan dilakukan dengan cara oksidasi (respirasi).  Golongan organisme autotrof merupakan makanan penting bagi organisme heterotrof, yaitu organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri misalnya manusia, hewan, dan bakteri tertentu. Makanan organisme heterotrof berupa bahan organik yang sudah jadi. 
Aliran energi merupakan rangkaian urutan pemindahan bentuk energi satu ke bentuk energi yang lain dimulai dari sinar matahari lalu ke produsen, konsumen primer, konsumen tingkat tinggi, sampai ke saproba di dalam tanah. Siklus ini berlangsung dalam ekosistem.





C.    Pola Produksi  dan Distribusi Biomass
                                            
                                         

Jumlah bahan hidup yang terdapat di dalam satu atau beberapa jenis organism yang berada di dalam habitat tertentu. Biomasa pada umumnya dinyatakan dalam berat kering organisme persatuan luas habitat, yang dinyatakan dalam kg/m2, atau kg/m3. Biomasa adalah salah satu sumberdaya hayati, merupakan energi matahari yang telah ditransformasi menjadi energi kimia oleh tumbuhan berhijau daun.
Biomasa adalah semua bahan organik dari tumbuhan tersebut, mulai dari akar, batang, cabang, bunga, buah, biji dan daun. Biomasa yang berupa kayu merupakan sumber energi yang telah dimanfaatkan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, dan masih terus dimanfaatkan hingga sekarang, khususnya di daerah pedesaan pada negara yang sedang berkembang.
Tumbuhan memerlukan banyak unsur hara, untuk hidup dan pertumbuhannya. Unsur-unsur hara tersebut akhirnya akan dikembalikan ke lantai hutan dalam bentuk biomasa yang berupa serasah (bahan organik). Produktivitas serasah dari suatu ekosistem hutan, antara lain dipengaruhi oleh posisi garis lintang, tempat hutan itu berada, dengan produksi maksimum pada hutan di daerah sekitar khatulistiwa (tropis). Semakin ke utara atau ke selatan, produksinya akan semakin berkurang. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa produktivitas biomasa (serasah) pada hutan hujan tropis, kurang lebih sebanyak 10 ton/ha/tahun, sementara pada daerah sedang dan subartik, masing-masing sekitar 5 dan 3 ton/ha/tahun.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Ekologi. Jakarta: http://www.wikipedia.org.com/ekologi
Odum. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM Press.
Ramli, Dzaki. 1989. Ekologi. Jakarta: Depdikbud
Syamsurizal. 2000. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Padang: UNP

PB09

Sabtu, 05 Mei 2012

DENSITAS


POPULASI TUMBUHAN

A. STRUKTUR POPULASI
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan tersebar di alam secara tidak merata (tidak mempunyai jarak yang sama) disebabkan perbedaan kondisi lingkungan, sumber daya, tumbuhan tetangga, dan gangguan yang merupakan faktor yang mempengaruhi pola dinamika populasi tumbuhan.
Perbedaan perangkat kondisi lingkungan tersebut tidak hanya memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi juga merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu. Distribusi, survival, pola pertumbuhan serta reproduksi mencerminkan adaptasi tumbuhan terhadap lingkungan tertentu. Keadaan tersebut menjadi suatu bagian penting dalam ekologi tumbuhan (Syamsurizal, 1999: 16).
a. Densitas
Densitas adalah jumlah individu per satuan area tertentu, sebagai contoh adalah 300 pohon Sacharum oficinarum/ha. Cara perhitungan densitas tidak dengan menghitung semua individu yang ada dalam suatu area.  Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan sampling area. Luas sampling area adalah 1% dari luas area total yang diamati. 
Pengamatan area sampling dilakukan secara acak dengan penggunakan kuadrat. Kuadrat adalah sembarang bentuk yang diberi batas dalam suatu vegetasi, sehingga penutup seperti densitas dan dominansi dapat diperkirakan ataupun dihitung.
Ukuran kuadrat sangat tergantung pada tipe vegetasi yang diamati. Pada tumbuhan yang anual dengan homogenitas yang tinggi maka ukuran kuadrat dapat sangat kecil, sedangkan pada pohon dapat digunakan ukuran 10-50 m dalam satu sisi. 
Densitas dapat ditinjau dengan tanpa melihat masing-masing jenis, data seperti ini bisa digunakan untuk menghitung jumlah rata-rata individu dari total cuplikan. Perincian densitas  per jenis, menunjukkan populasi masing-masing jenis dan apabila dikaitkan dengan persebaran ukuran seluruh individu dari masing-masing jenis, diperoleh informasi tentang strategi regenerasi atau untuk upaya pengelolaan dan usaha konservasinya, namun data densitas tidak akan berguna tanpa identitas atau informasi dari data yang lain. Densitas suatu spesies merupakan suatu ukuran yang statis, data yang diperoleh tidak dapat mengungkap interaksi dinamik yang terjadi pada anggota spesies tersebut.
Kerapatan populasi adalah besarnya populasi dalam hubungannya dengan satuan ruang. Umumnya dinyatakan sebagai jumlah individu per satuan area. Keanekaragaman sifat yang besar dapat digunakan sebagai satuan-satuan biomas, berkisar dari berat kering hingga ke kadar DNA atau RNA. Kadang-kadang perlu dibedakan dan dipahami kerapatan kotor, kerapatan jenis atau kerapatan ekologi (Odum, 1973: 202).
Kerapatan populasi merupakan ukuran populasi dalam hubungannya dengan satuan ruang. Biasanya dinyatakan dengan banyaknya individu atau biomas populasi per satuan luas atau volume. Misalnya 300 batang pohon per hektar.
Kerapatan kotor atau crude density merupakan banyaknya individu atau biomas yang terdapat dalam satuan ruangan keseluruhan. Misalnya jumlah species per hektar hutan tropik basah.
Kerapatan ekologis berarti banyaknya individu atau biomas per satuan habitat atau banyaknya individu menempati per satuan volume yang tersedia.
Batas atas kerapatan populasi ditentukan oleh arus energi dalam ekosistem, tingkat tropik organisme, ukuran individu dan kerapatan metabolisme individu organisme tersebut. Batas bawah kerapatan populasi lebih sulit ditentukan, kecuali pada suatu ekosistem yang mantap, yaitu ekosistem yang memiliki mekanisme homoeostasis yang bekerja untuk menjaga kerapatan organisme secara umum dan organisme yang dominan. Makin rendah tingkat tropik, makin tinggi kerapatannya dan pada tingkat tertentu makin besar individu makin besar biomasnya (Ramli, 1989: 120-121)
Menjaga validitas dari pengamatan, kuadrat diletakan secara acak dengan memperhatikan ordinat sumbu X dan ordinat sumbu Y, yang merupakan dimensi luas area yang diamati. Masing masing sumbu ordinat dibagi dalam unit kecil dengan interval tertentu, tentunya interval untuk ordinat X maupu Y sanat tidak mungkin sama, kecuali area yang diamati mampunyai bangun bujur sangkar.
Mempertimbangkan luas area yang digunakan sampling dalam pengamatan dan tipe vegetasi, maka diperoleh masing masing jarak interval pada sumbu X dan Y. Contoh adalah : Luas area total adalah 10.000.000 m2, , maka area samplingnya  adalah 1% dari 10.000.000 m2 = 100.0000 m 2., jika tipe vegetasi yang diamati memerlukan luas 4 m2, maka jumlah kuadrat yang diamati sebanyak 100.000/4=25.000 plot. Mengetahui jarak X dan Y adalah sangat penting karena dipergunakan sebagai pembilang dari jumlah total plot yang diamati. Pembuatan unit pada ordinat X  ataupun Y dibagi sebanyak plot.
Pengukuran densitas pada pohon yang terdapat di hutan pada umumnya dihitung dengan metode jarak, yang dibicarakan pada metode teknik sampling.
(http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id/files/2010/03/BAB-II.doc).
Pada kasus yang luar biasa kita mungkin bisa menentukan ukuran dan kepadatan populasi dengan menghitung langsung seluruh individu yang ada dalam batas suatu populasi. Misalnya, kita dapat menghitung jumlah pohon mangga pada suatu kebun. Akan tetapi, pada sebagian besar kasus, tidak praktis atau bahkan tidak mungkin untuk menghitung semua individu yang ada dalam populasi. Malahan para ahli ekologi menggunakan berbagai macam teknik pengambilan contoh atau sampel untuk menaksir kepadatan dan ukuran total populasi. Sebagai contoh, para ahli bisa menaksir jumlah pohon jarak di suatu hutan dengan cara menghitung individu yang terdapat dalam beberapa plot yang mewakili. Taksiran seperti itu lebih tepat jika menggunakan sampel bidang tanah yang lebih banyak dan lebih besar, dan saat habitat homogen. Pada beberapa kasus, ukuran populasi ditaksir bukan dengan menghitung organismenya akan tetapi dengan menggunakan indikator tidak langsung (Campbell, 2004: 334).
Kelimpahan dan Keragaman
Hasil penelitian ekologi dalam 100 plot sampling atau seluas 1 ha area pengamatan di kawasan Seksi Konservasi Wilayah II Senduro disajikan dalam tabel berikut ini. Pengamatan dilakukan pada tujuh blok di kawasan ini, yaitu meliputi Blok Lemah Abang, Pangungaan Gedok, Watu Supit, Glendangan, Ledok Malang, Krepelan dan Bantengan dengan variasi ketinggian antara 1060 – 2330 m dpl. Dalam kegiatan penelitian ini hanya ditemukan 13 jenis tumbuhan obat yang termasuk dalam transek pengamatan (tabel 1.). Tiga jenis diantaranya termasuk kategori tumbuhan obat langka yaitu pronojiwo (Euchresta horsfieldii), pulosari (Alyxia reinwardtii) dan sintok (Cinnamomum sintoc). Satu jenis tumbuhan obat langka lainnya yaitu purwoceng (Pimpinella pruatjan) ditemukan di perkebunan penduduk dan tidak diperoleh satu individu pun
di dalam plot sampling. Tingkat keragaman (indeks Shannon) jenis tumbuhan obat di dalam plot pengamatan seluas 1 ha adalah sebesar 1,103. Hal ini menunjukan masih rendahnya keragaman tumbuhan obat yang ada di lokasi pengamatan. Berdasarkan kelas kualitas indeks keanekaragaman (Soerjani, 1992) dapat dikatakan bahwa lokasi survei termasuk ke dalam kawasan hutan dengan rentang kelas 2 (kurang) dari segi keragaman tumbuhan obatnya. Sedangkan indeks kemerataan diperoleh nilai 0.99 ( e = 1.103/log 13), menunjukkan kelas kualitas indeks baik ( kelas baik nilai e: 0.81-1.00). Hal ini didukung dengan hampir meratanya jenis-jenis tumbuhan obat terdapat di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kekerapan dan kerapatan jenis tumbuhan obat tertinggi diperlihatkan oleh Euchresta horsfieldii berturut-turut sebesar 29,89 % dan 440 individu per hektar. Dua jenis tumbuhan obat langka lainnya yang ditemukan dalam plot pengamatan adalah Cinnamomum sintoc dan Alyxia reinwardtii, namun keduanya termasuk jarang ditemukan (frekuensi relatif <5%). Bahkan jenis Alyxia reinwardtii hanya ditemukan 4 individu dalam luasan 1 ha tersebut (Hidayat, 2007: 170).

b. Pola penyebaran individu
Pola adalah distribusi menurut ruang. Data pola penyebaran tumbuhan dapat memberi nilai tambah pada data densitas dari suatu spesies tumbuhan. Pola penyebaran tumbuhan dalam suatu wilayah dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu:
a. Acak
Pola  peneyebaran secara acak dapat dilihat jika jarak , lokasi, sembarang tumbuhan tidak mempunyai arah dan posisi terhadap lokasi spesies yang sama. Sebaran acak mengikuti apa yang disebut kurva normal yang mendasari cara statistika baku ( Ewusie, 1990: 38).
Pengaturan jarak secara acak atau random terjadi karena tidak adanya tarik menarik atau tolak menolak yang kuat diantara individu-individu dalam suatu populasi, posisi masing-masing individu tidak bergantung pada individu lain. Sebagai contoh, pohon-pohon di hutan kadang-kadang tersebar secara acak. Akan tetapi, secara keseluruhan pola acak tidak umum ditemukan di alam, sebagian besar populasi menunjukkan paling tidak suatu kecenderungan ke arah penyebaran terumpun atau penyebaran seragam (Campbell, 2004: 335).

b. Mengelompok
Pola penyebaran mengelompok (Agregated atau undispersed), menunjukan bahwa hadirnya suatu tumbuhan akan memberikan indikasi untuk menemukan tumbuhan yang sejenis. Anggota tumbuhan yang ditemukan lebih banyak ditemukan secara mengelompok dikarenakan ada beberapa alasan :
1) Reproduksi tumbuhan yang menggunakan 
a) ruuner atau rimpang.
b) Reproduksi tumbuhan yang menggunakan biji cenderung jatuh di sekitar induk.
2) Lingkungan /habitat mikro pada tiap spesies yang mempunyai kesamanan pada  anggota spesies. Habitat dikatakan homogen pada lingkungan makro, namun pada lingkungan mikro sangat berbeda. Mikrositus yang paling cocok untuk suatu spesies cenderung  ditempati lebih padat untuk spsies yang sama.
Pola penyebaran yang paling umum adalah pembentukan rumpun, dengan individu-individu berkelompok di dalam patch-patch. Tumbuhan bisa menjadi terumpun di tempat-tempat tertentu dimana kondisi tanah dan faktor-faktor lingkungan lain mendukung untuk perkecambahan dan pertumbuhan. Sebagai contoh, cedar merah timur seringkali ditemukan terumpun di atas permukaan batu kapur, dimana keadaan tanah kurang asam dibandingkan dengan daerah di dekatnya (Campbell, 2004: 334).

c.  Teratur
Pola penyebaran teratur jika secara reguler dapat ditemui pada perkebunan, agricultur  yang lebih diutamakan efektifitas dan efisiensi lahan.
Berlawanan dengan persebaran individu secara terumpun di dalam suatu populasi, suatu pola penyebaran yang seragam atau berjarak sama mungkin dihasilkan dari interkasi langsung antarindividu dalam populasi tersebut. Sebagai contoh, suatu kecenderungan pada pengaturan jarak yang beraturan pada tumbuhan bisa disebabkan oleh peneduhan dan kompetisi untuk mendapatkan air dan mineral. Beberapa tumbuhan juga mengeluarkan zat-zat kimia yang menghambat perkecambahan dan pertumbuhan individu di dekatnya yang dapat bersaing untuk mendapatkan sumberdaya (Campbell, 2004: 335).

Penyebaran umur populasi
Penyebaran umur merupakan ciri atau sifat penting populasi yang mempengaruhi natalitas dan mortalitas. Karenanya nisbah dari berbagai kelompok umur dalam suatu populasi menentukan status reproduktif yang sedang berlangsung dari populasi dan menyatakan apa yang dapat diharapkan pada masa mendatang. Biasanya populasi yang sedang berlangsung cepat akan mengandung bagian besar individu-individu muda, populasi yang stationer memiliki pembagian khas umur yang lebih merata, dan populasi yang menurun akan mengandung bagian besar insan-insan yang berumur tua. Walaupun demikian, populasi dapat melalui perubahan-perubahan dalam struktur umur tanpa merubah besarnya. Ada bukti bahwa populasi mempunyai penyebaran umur yang normal atau mantap kearah mana penyebaran umur sebenarnya berkecenderungan untuk mengarah. Sekali penyebaran umur yang mantap itu tercapai, maka kenaikan-kenaikan luar biasa natalitas ataupun mortalitas akan mengakibatkan perubahan-perubahan sementara, dengan pengembalian serentak ke keadaan yang mantap (Odum, 1973: 218).

Cara pengukuran pola
Beberapa pengukuran pola diantaranya adalah:
a.    Menggunaan kuadrat acak.
Pemanfaatan jumlah individu yang berakar dalam tanah dihitung dalam kuadrat dan merupakan data pengamatan. (observed). Data harapan dihitung dengan rumus Poison yang hanya memerlukan jumlah  rata rata tumbuhan per kuadrat. Perbedaan antara data pengamatan daengan data harapan dinalisis dengan chi square. Contoh perhitungan dengan analisis Poison untuk setiap spesies adalah sebagai berikut:
Tabel  3   : Analisis  pola penyebaran spesies dengan menggunakan rumus Poison
Jumlah tumbuhan per kuadrat Pengamatan jumlah kuadrat dengan x tumbuhan Harapan
Jumlah kuadrat dengan x tumbuhan  = e -m  (mx /X!) (100) X2  
(Pengamatan –Harapan) 2
             Harapan 
0 13 21.0 3.0
1 51 32.8 10.1
2 23 25.6 0.3
3 3
13.3 8.0
4 0 10 5.20 -
5 10 1.60 1.5
Total 100 99.5 Σχ 2=22.9


Analisis  dengan menggunakan kuadrat acak ini memerlukan minimal 100 kuadrat yang diletakan secara acak. Ukuran plot disesuikan dengan tipe life form. Tumbuhan yang dianalisis sebaiknya adalah tumbuhan yang tunggal seperti spesies Elepanthus, Tridaks procumben. Pengelompokan dengan menggunakan klas  skala B-B yang terdiri dari enam kelas 
Asumsi sebaran Tumbuhan secara umum adalah mengelompok, sehingga Ho: dikatakan sebagai spesies tumbuhan X adalah tidak mengelompok. Penggunaan rumus poison memerlukan jumlah  rerata  tumbuhan per juadrat (m), bilangan konstanta e = 2,7183, sehingga  e -m  = 0,21
Berdasarkan harga Σχ 2=22.9 dokonfirmasikan dengan tabel χ 2 dengan derajad bebas 3 = 11,34, maka nilai χ 2 hitung =22.9> χ 2 tabel = 11,34. Ho ditolak, artinya HA diterima berarti tumbuhan tsb hidup secara mengelompok.
Pola penyebaran setiap jenis tumbuhan ditentukan menggunakan rumus rasio varians dengan nilai tengah sebagai berikut (Setiadi, 1984). 
Penyebaran= V/m :



M =  
Keterangan: 
V= varians 
m= nilai tengah 
Xi= banyaknya individu suatu jenis pada petak contoh ke-i 
n= banyaknya petak contoh 
Kriteria pola penyebaran horizontal: 
a. Jika nilai V/m= 1, maka individu tumbuhan berdistribusi acak (random). 
b. Jika nilai V/m> 1, maka individu tumbuhan berdistribusi mengelompok.
c. Jika V/m< 1, maka individu tumbuhan berdistribusi seragam.
(http://sayedmaulana.files.wordpress.com/2010/12/makalah-pola-penyebaran-dan-daerah-sebaran.doc).

b. menggunakan metode jarak
Metode jarak dapat digunakan dalam perhitungan pola dengan tidak menggunakan plot. Jarak antara tumbuhan yang salaing berdekatan dihitung dan akan dipelajari dalam teknik sampling pada bab kemudian.

c. Frekuensi
Frekuensi dapat digunakan untuk menaksir pola, dimana frekuensi adalah jumlah kuadrat yang berisi spesies tumbuhan tertentu. Jika ada 50 kuadrat yang ditempatkan dilapangan area pengamatan dan 25 diantaranya ditandai dengan hadirnya spesies tertentu maka frekuensi tumbuhan tersebut adalah 50%.
Berdasarkan densitas dan frekuensi dapat juga digunakan sebagai prediksi untuk pola spesies tumbuhan. Sebagai contoh adalah jika angka densitas tinngi dan frekuensi rendah maka dapat diasumsikan bahwa tumbuhan tersebut adalah mengelompok, demian juga sebaliknya. Tetapi penggunakan densitas dan frekuensi adalah ukuran yang tidak independen karena masih ada faktor lain yaitu luas kuadrat yang digunakan berpengaruh terhadap frekuensi yang hadir dalam kuadrat (http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id/files/2010/03/BAB-II.doc).

d. Dominansi 
Penutupan adalah proyeksi luas tajuk pada permukaan tanah dari masing-masing jenis pohon tercacah seperti pada bab I. Data ini biasanya dinyatakan dengan persentase dari total daerah tutupan terhadap luas petak secara keseluruhan. Data ini bisa diperkirakan dengan serentetan titik-titik cuplikan. Penaksiran dapat dilakukan secara langsung, dan perlu diketahui bahwa cabang berbagai jenis pohon hutan sering tumpang tindih. Oleh karena itu, penghitungan total penutupan semua jenis dalam suatu petak cuplikan akan sering mencapai > 100%. 
Dominansi suatu jenis =  
Berdasarkan jumlah replika yang dilakukan maka dapat diperoleh nilai relatif dari parameter dominansi adalah sebagai berikut:
Dominansi Relatif (DR) % =  X 100%

Pertumbuhan Populasi
Semua populasi mempunyai potensi untuk tumbuh dengan cepat, baik pertumbuhan dalam jumlah yang dapat dikatakan meledak, suatu jumlah individu dalam populasi dapat meningkat oleh adanya reaksi rantai yang saling menunjang.
Pada populasi organisme yang erat hubungannya, faktor imigrasi dan emigrasi dapat ignored dan dinamika populasi ditunjukkan oleh angka kelahiran dan angka kematian. Jumlah kelahiran yang dapat dihasilkan oleh suatu individu dalam setahun kita misalkan B, dan individu-individu yang mati selama setahun itu adalah D. Misalkan No jumlah individu yang ada mulai tahun 0. Berapakah jumlah individu pada permulaan tahun 1? Maka jawabannya adalah:
N1 = B No + (1-D) No
Karena B No adalah jumlah total dari kelahiran dan (1-D) adalah jumlah total yang tetap hidup selama setahun. Hal ini disederhanakan dengan suatu harga konstanta R, sehingga:
N1 = RNo 
Jumlah individu pada tahun kedua menggunakan formula ini lagi, sehingga didapatkan:
N2 = RN1 
Dari rumus di atas kita mengetahui N1 dari No, maka dapat dituliskan:
N2 = R2No
Seterusnya karena kita telah mengetahui No dan R, kita dapat memproyeksikan populasi untuk seluruh waktu yang akan datang, misalnya pada tahun t, sebagai
N1 = RtNo
Rumus di atas menunjukkan jumlah dari organisme dalam populasi pada suatu waktu tertentu sebagai suatu faktor times jumlah yang ada. Faktor itu menjadi suatu konstanta R, dan di bangun pada suatu tenaga, T. Jadi t adalah suatu eksponen. Pada saat ukuran populasi dijelaskan dengan formula ini, populasi dinyatakan dalam keadaan tumbuhan yang eksponensial (Ramli, 1989: 122-123).

Kelahiran (natality)
Kelahiran adalah kemampuan yang sudah merupakan sifat suatu populasi untuk bertambah. Laju kelahiran adalah setara dengan kelahiran dalam terminologi pengkajian populasi manusia. Natalitas maksimum adalah produksi maksimum individu-individu baru secara teoritis di bawah keadaan yang ideal dan merupakan tetapan untuk suatu populasi tertentu. 

Kematian (mortalitas)
Mortalitas adalah kematian individu-individu di dalam populasi. Mortalitas dapat dinyatakan sebagai individu yang mati di dalam kurun waktu tertentu. Ada mortalitas minimum secara teoritis, suatu tetapan untuk suatu populasi, yang menyatakan kehilangan di bawah keadaan-keadaan yang ideal atau tidak membatasi (Odum, 1973: 209)
Faktor-faktor pembatas populasi
Faktor-faktor yang bergantung pada kepadatan mengatur pertumbuhan populasi dengan cara yang bervariasi sesuai dengan kepadatan. Faktor yang bergantung pada kepadatan akan semakin intensif ketika kepadatan populasi meningkat dan akhirnya dapat menstabilkan suatu populasi di dekat daya tampungnya. Beberapa faktor yang bergantung kepada kepadatan—kompetisi intraspecies untuk sumberdaya yang terbatas, peningkatan pemangsaan, cekaman akibat kepadatan, atau penumpukan toksin—dapat menyebabkan laju pertumbuhan populasi menurun pada kepadatan populasi yang tinggi.
Kejadian dan kehebatan faktor-faktor yang tidak bergantung pada kepadatan, tidak berhubugan dengan kepadatan populasi. Faktor yang tidak bergantung pada kepadatan, seperti kejadian-kejadian karena iklim dan kebakaran, menurunkan ukuran populasi pada fraksi tertentu, terlepas dari tingkat kepadatannya. Ukuran populasi banyak species, khususnya yang organisme kecil, dibatasi oleh faktor-faktor yang tidak bergantung pada kepadatan yang terjadi secara musiman (Campbell, 2004: 358).

B. DEMOGRAFI TUMBUHAN
Demografi tumbuhan adalah kajian perubahan tumbuhan dalam ukuran populasi menurut umur. Demografi dapat dipelajari dengan cara menentukan laju kelahiran, dan kematian tiap umur dalam populasi . Melalui demografi dapat diproyeksikan  lama hidup suatu tumbuhan, kapan bereproduksi, seberapa banyak jumlah anak, serta perubahan yang terjadi dalam populasi dalam satuan waktu tertentu.
Persoalan demografi adalah bukan hanya persoalan menghitung karena tumbuhan mempunyai plastisitas dan  kompleksitas morphologi dan kemampuan untuk memproduksi secara aseksual.
Pendekatan terhadap demografi dilakukan dengan memberi batasan yang jelas mengenai stadia sejarah hidup, jumlah hadir pada masing masing stadia. Sebagai contoh adalah, biji yang hadir dalam tanah diacu sebagai seed pool (kolam biji/bank biji). Beberapa biji, berkecambah untuk menjadi seedling. Lingkungan berperan untuk menjadi penyaring sehingga beberapa biji tetap dalam bentuk biji dan beberapa biji tumbuh menjadi sedling.
Sementara itu beberapa tumbuhan mati sebelum menghasilkan biji dan ada yang membentuk anakan  dengan biji ataupun dengan cara vegetatip baru. Pada ahkir musim pertumbuhan, biji baru dihasilkan dan bank biji lain tersedia untuk generasi berikutnya.
a. Model pertumbuhan populasi
1. Model Continous time
Menggunakan model continous time kita dapat menentukan jumlah tumbuhan yang akan datang (N t+1). Caranya dengan menambahkan jumlah tumbuhan pada waktu tertentu (Nt) dengan jumlah individu yang terbentuk dari yang dihasilkan tumbuhan yang ada (B). Persamaan yang digunakan yaitu Nt+1=Nt+B+I-D-E, dimana:
Nt+1= jumlah tumbuhan yang ada pada beberapa waktu mendatang
Nt= jumlah tumbuhan pada waktu tertentu
B= jumlah individu yang terbentuk dari biji yang dihasilkan dari tumbuhan yang ada
I= jumlah individu yang tersebar pada situs I
D= jumlah individu yang telah mati
E= jumlah biji yang tersebar keluar area selama periode waktu tertentu
Karena kita kurang mampu menghitung secara lengkap kelahiran dan kematian untuk seluruh populasi, maka data biasanya dinyatakan sebagai laju kelahiran individu (b) dan laju kematian (d), dengan mengabaikan migrasi maka dapat dihitung laju kematian sesaat (r) perindividu atau dalam persamaan:
r=b-d
atau dapat dihitung laju perubahan jumlah populasi dengan persamaan:
d N/at = r.N
dimana:
N= jumlah individu dalam populasi pada waktu t 
2. Model matriks
Model matriks adalah suatu model yang mengizinkan penentuan pertumbuhan populasi tumbuhan dengan perhitungan periode waktu yang tegas. Model matriks sangat menguntungkan bila unit populasi bergerak dari satu stadia pertumbuhan ke stadia lainnya (Michael, 2000: 341).

b. Populasi lebat
Konsep daya dukung yang berkaitan dengan jumlah individu yang dapat didukung dalam suatu lingkungan tertentu, harus diperluas untuk mencakup komponen yield atau biomas. Beberapa individu mendapatkan lebih banyak sumber daya sehingga mereka tumbuh lebih cepat akhirnya terjadi suatu penjarangan diri secara bertingkat pada populasi yang sangat lebat. Ukuran populasi dalam populasi yang tumbuh bergantung pada yang kuat dalam survival. Jumlah populasi menjadi lebih besar atau N mendekati K, sehingga r menurun sampai rata-rata nol. Jika kita memperhatikan hukum yield konstan dimana tumbuhan tanggap terhadap kelebatan dan tidak hanya oleh densitas tetapi juga oleh ukuran individu.

c. Stadia versus umur
Ukuran tidak perlu berkorelasi dengan umur. Banyak tumbuhan akan berbunga bila mereka mencapai ukuran tertentu tanpa memandang umurnya. Semai pohon akan tetap kecil untuk beberapa tahun bila tumbuh dalam naungan lebat. Hal ini adalah stadia perkembangan yang menentukan status demografi individu tentang umurnya. Dalam keadaan tertentu suatu tumbuhan dapat tertarik kembali stadia perkembangan awal. Umur tidak menjadi syarat berarti dalam demografi tumbuhan bila dormansi memutus daur hidup untuk suatu periode waktu.

d. Struktur umur dan struktur stadia
Tanpa memandang lama hidup, maka oran mengenal 8 stadia individu tumbuhan atau populasi yaitu:
1. Biji yang dapat berkecambah
2. Semai
3. Muda/juvenil
4. Tidak dewasa/inmature vegetatif
5. Dewasa/matur vegetatif
6. Reproduksi awal
7. Kesuburan maksimum
8. Tua/senescent
Stadia umur tersebut dapat sebagai parameter menilai perkembangan populasi sebagai bagian dari komunitas (Syamsurizal, 1999: 19-23).

Struktur umur dan ratio jenis kelamin
Banyak organisme memperlihatkan generasi-generasi yang saling tumpang tindih, atau individu-individu yang hidup berdampingan lebih dari satu generasi. Hanya organismen yang seluruh dewasanya bereproduksi pada waktu yang hampir besamaan dan kemudian mati, seperti pada tumbuhan tahunan yang tidak memiliki generasi yang saling tumpang tindih. Generasi yang hidup berdampingan memunculkan struktur umur yang merupakan jumlah relatif individu pada masing-masing umur, pada kebanyakan populasi. Para ahli demografi seringkali menggunakan paramida umur untuk menunjukkan struktur umur suatu populasi. Suatu struktur populasi sangat penting dalam penentuan laju pertumbuhannya.
Setiap kelompok umur memiliki angka kelahiran dan angka kematian yang khas. Angka kelahiran merupakan jumlah keturunan yang dihasilkan selama jangka waktu tertentu, seringkali paling besar pada individu dengan umur pertengahan. Angka kematian paling tinggi pada kehidupan tahun pertama dan pada usia tua. 
Suatu ciri demografi yang penting, yang berhubungan dengan struktur umur, adalah waktu generasi, yaitu rata-rata rentang waktu antara kelahiran suatu individu dengan kelahiran keturunannya. Secara umum, waktu generasi sangat kuat berhubungan dengan ukuran tubuh dalam suatu kisaran jenis organisme yang luas. Dengan faktor-faktor lain yang tetap sama, waktu generasi yang lebih pendek akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat dengan asumsi bahwa keseluruhan angka kelahiran lebih besar dari angka kematian. Hal ini karena peningkatan ukuran populasi disebabkan oleh kelahiran yang berakumulasi lebih cepat ketika individu mencapai kematangan seksual dalam suatu periode waktu yang lebih pendek. Ratio jenis kelamin yaitu proporsi individu dari masing-masing jenis kelamin, adalah statistik demografi penting lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan populasi (Campbell, 2004: 336-337).

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A. 2004. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Ewusie, J. Yanney. 1990. Ekologi Tropika. Bandung: ITB.
Hidayat, Syamsul dan Rosniati A Risna. 2007. Kajian Ekologi Tumbuhan Obat Langka di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Biodiversitas (Volume 8, Nomor 3). Bogor: LIPI.
Maulana, Sayed. 2010. Pola Penyebaran dan Daerah Sebaran Tumbuhan. (http://sayedmaulana.files.wordpress.com/2010/12/makalah-pola-penyebaran-dan-daerah-sebaran.doc, diakses 22 Februari 2011).
Michael, P. 2000. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Odum, Eugene P. 1973. Dasar-dasar Ekologi. Yokyakarta: UGM.
Ramli, Dzaki. 1989. Ekologi. Jakarta: Depdikbud.
Sriwidoretno. 2010. Populasi dan Demografi Tumbuhan. (http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id/
files/2010/03/BAB-II.doc, diakses 22 Februari 2011).
Syamsurizal. 1999. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Padang: FMIPA UNP.

PB09

POPULASI TUMBUHAN


POPULASI TUMBUHAN

A. Konsep Populasi
Populasi secara sederhana diartikan sebagai suatu kelompok organisme (tumbuhan/hewan) yang mampu melakukan persilangan diantaranya dan menempati suatu ruang/kawasan tertentu. Kelompok organisme yang membentuk populasi tidak lain adalah individu-individu dari spesies yang sama baik secara genetik maupun secara morfologi. Oleh karena itu, bila kita membicarakan populasi kita harus menyebutkan jenis individu (spesies) yang dibicarakan dan juga diperlukan batas waktu dan bahkan kuantitas. (Syamsurizal, 1999 : 12)
Ciri-ciri populasi:
1. Ciri biologi, merupakan ciri yang dimiliki oleh individu-individu pembangun populasi
Contoh: akar gantung pada anggrek
2. Ciri statistik, merupakan ciri unik sebagai himpunan dari kelompok individu.
Contoh: Kerapatan
Dua pengamatan yang mempelajari ekologi populasi,
1. Speses-spesies tidaklah sama melimpahnya dalam seluruh wilayah; beberapa spesies mungkin banyak jumlahnya, sedangkan spesies lain barangkali sedikit.
2. Spesies-spesies tidaklah sama melimpahnya di suatu daerah dibandingkan dengan daerah lainnya diwilayah tersebut (McNaughton. 2000: 288-289).

B. Karakteristik Populasi
1. Memiliki kerapatan (density)
Untuk menyatakan ukuran/ besarnya populasi, pengertian kerapatan populasi (populasi density, densitas populasi) banyak dipakai. Kerapatan populasi dapat dinyatakan dalam jumlah individu dengan ruang yang ditempati pada satuan luas (misalnya m2 atau Ha) untuk organisme yang hidup di darat atau satuan volume (misalnya liter atau m3)
Kerapatan  =   Jumlah individu
          Satuan luas/volume

Kerapatan populasi ditentukan oleh :
a. Energy/produktifitas lingkungan
b. Tropic level organisme yang menyusunnya
c. Besar atau kecepatan metabolisme
d. Homeostatic mechanism yaitu suatu mekanisme dimana adanya kecenderungan faktor biotis mengadakan keseimbangan.
 (Dalim, 1999 : 83-84)
Kerapatan kotor (Crude density) merupakan banyaknya individu (biomassa) yang terdapat dalam satuan ruangan keseluruhan. Misalnya jumlah spesies per hektar hutan tropik basah. Kerapatan ekologis berarti banyaknya individu (biomassa) per satuan habitat atau banyaknya individu menempati per satuan/volume yang tersedia.
Batas atas kerapatan populasi ditentukan oleh arus energy dalam ekosistem, tingkat tropic organisme, ukuran individu dan kerapatan metabolisme individu organism tersebut. Batas bawah kerapatan populasi lebih sulit ditemukan, kecuali pada suatu ekosistem yang memiliki mekanisme homoeostatis yang bekerja untuk menjaga kerapatan organisme secara umum dan organism yang dominan.
Makin rendah tingkat tropik makin tinggi kerapatanya dan pada tingkat tertentu makin besar individu makin besar biomassanya.
(Suin, 2002 : 35-36)


2. Perubahan- perubahan kepadatan populasi, istilah yang digunakan adalah dinamika populasi.
Sebagian besar organisme menunjukkan variasi besar populasi tahuanan, yaitu adanya periode perkembangbiakan diikuti periode perkembangbiakan terbatas atau tanpa perkembangbiakan tetapi dengan beberapa kematian (mortality). Pola besar atau ukuran populasi selamam beberapa tahun ditentukan oleh pola tahunan periode kelahitan (natality) dan kematian
Faktor yang menyebabkan perubahan pada populasi yaitu:
a) Angka kelahiran (natalitas), yaitu angka kelahiran yang dapat menambah besarnya populasi.
N =     Jumlah individu lahir
             Satuan waktu

Natalitas maksimum disebut juga natalitas mutlak atau fisiologis dapat dinyatakan sebagai banyaknya jumlah maksimum individu-individu baru dalam kondisi ideal (tidak ada factor pembatas ekologis, hanya factor pembatas fisiologis). Nilai natalitas maksimum ini untuk populasi adalah konstan. Natalitas ekologis menyatakan peningkatan populasi dalam kondisi lingkungan yang sebenarnya atau kondisi spesifik lingkungan.
b) Angka kematian (mortalitas), yaitu yang dapat mengurangi besarnya populasi.
M =   Jumlah individu yang mati
Satuan waktu
c) Perpindahan masuk (imigrasi) juga dapat menambah populasi
d) Perpindahan keluar (emigrasi) dapat mengurangi populasi
Keempat faktor ini menyebabkan populasi turun naik yang disebut juga fluktuasi populasi.

Populasi yang terkontrol merupakan sesuatu yang secara teratur mengarah pada kemampuan lingkungan untuk mendukung individu-indivudu. Daya dukung ini bisa berubah menurut waktu, oleh karena ketersediaan sumber menjadi kritis, perubahan umur struktur genetic populasi, atau perubahan sumber kematian eksternal. Densitas populasi terkontrol mungkin berubah dalam pola yang bertahap (tracking) dengan berubahnya daya dukung lingkungan. Tracking dari fluktuasi yang besar membutuhkan hubungan timbal balik yang kuat dan cepat antara organism denagn lingkungan. Hubungan tersebut akan menentukan kecepatan perubahan populasi terkontrol sebagai respon terhadap fluktuasi lingkungan. (McNaughton, 2000: 509)

Pertumbuhan Populasi
1. Struktur Umur
Dalam lingkaran hidup organisme terdapat fase lahir, pertumbuhan, dewasa, tua, dan mati. Struktur umur dalam suatu populasi dapat menunjukkan suatu populasi apakah sedang mengalami pertumbuhan yang cepat, stabil, atau menurun.
2. Bentuk pertumbuhan populasi
a) Bentuk J
Ditandai bila kepadatan suatu populasi tumbuh secara eksponensial (sangat cepat), lalu pertumbuhan berhenti mendadak karena daya tahan lingkungan.


b) Bentuk S (Sigmoid)
Mula-mula populasi tumbuh lambat, makin lama makin cepat, karena factor lingkungan maka populasi tumbuh menjadi lambat.


EKOSPESIES
Sekelompok spesies yang mampu melakukan tukar menukar gen dengan keturunan yang fertil  tetapi kesuburan berkurang apabila melakukan  hibridisasi dengan spesies lain.

EKOTIPE
Merupakan variasi yang ada dalam satu spesies akibat adanya perubahan faktor lingkungan seperti cahaya, intensitas cahaya, garis lintang, latitude, elevasi atau krakteristik situs lainnya. Variasi itu berupa tinggi pohon, ukuran daun, waktu berbunga. Sterbbins menyatakan bahwa ekotipe adalah kumpulan organisme yang mempunyai susunan genotipe sama, baik heterozygot maupun homozygot dan beradaptasi pada niche tertentu. Anggota suatu kelompok organisme dengan susunan genotipe yang sama dalam pembicaraan ekologi disebut biotipe dan niche adalah tempat suatu organisme berfungsi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
(Odum, 1961).


Beberapa pandangan mengenai ekotipe:
a) Menurut Kenner
Variasi yang ada pada spesies bersifat plastis dan bukan sebagai tanggapan genetis yang diturunkan.
b) Menurut Turesson
Variasi yang ada dapat diturunkan dan merupakan adaptasi terhadap habitatnya
Kriteria ekotipe menurut Turesson:
a) Ekotipe harus berdasarkan sifat genetik
b) Pebedaannya dapat berupa morfologis atau fisiologisnya
c) Hadir dalam tipe habitat yang berbeda secara jelas
d) Perbedaan genetik merupakan hasil adaptasi terhadap perbedaan habitat
e) Berpotensi interfertil (sama-sama subur) dengan ekotipe lain dari spesies yang sama
f) Merupakan satuan yang tegas dengan perbedan nyata yang memisahkan suatu ekotipe dengan lainnya
c) Menurut Clausen dan kawan-kawan
Dalam ukuran populasi tunggal sampai group regional, makin luas kisaran penyebaran spesies, makin banyak ekotipe dalam spesies tersebut.
(Syamsurizal, 1999 : 16)

Sifat Karakteristik Ekotipe
Keistimewaan sifat ekotipe antara lain:
1) Ekotipe spesies selalu interfertil
2) Dapat mempertahankan keistimewaan asalnya bila ditanam dalam habitat lain
3) Ekotipe didasarkan sifat-sifat genetis
4) Suatu spesies dengan ekologi yang luas dibedakan atas dasar sifat-sifat morfologis, fisiologis dalam habitat yang berbeda
5) Dapat terjadi dalam tipe habitat yang jelas
Pembentukan Ekotipe Baru
Ekotipe baru dapat dihasilkan melalui metode:
1. Hibridisasi
Ini dihasilkan oleh persilangan alami dari Spartia stricta dengan S. alterriflora, hibrid yang baru S. townsendii, hasil persilangan kedua induk dari habitat alami.
2. Mutasi
Hibrid-hibrid baru juga dapat dihasilkan dari mutasi alami dan rekombinasi, gen pool kecil mengumpul dalam jumlah populasi yang lebih baik adaptasinya. Dalam habitat atau lingkungan yang istimewa (khusus) beberapa ekotipe baru timbul karena penanaman (pengolahan) atau dijaga adanya seleksi kompetisi.
3. Pertukaran kromosom (Chromosonal changes)
Hilangnya atau penambahan segmen kromosom menghasilkan pertukaran genotipe diikuti oleh pertukaran fenotipe hasil dari pembentukan ekotipe baru karena  poliploid-poliploid hampir tidak menunjukkan toleransi ekologi seperti induknya.

Macam-macam Ekotipe
Menurut macam-macam kondisi lingkungan, ekotipe dibagi:
1. Klimatik ekotipe yaitu ekotipe yang terjadi akibat pengaruh faktor-faktor iklim seperti cahaya, temperatur, air dan angin. Turesson (1930) telah menyelidiki klimatik ekotipe misalnya: Leontodon auntumnalis.
2. Edhaphik ekotipe ialah ekotipe yang terjadi akibat perbedaan tipe dan reaksi tanah atau faktor-faktor tanah seperti kelembaban tanah, kelebihan atau kekurangan nutrien dan sebagainya.
Misa dan Rao (1948) telah mempelajari Lindenbergia Polyantha dan Rankishman (1961) mempelajari Euphorbia thymifolia.
3. Klimatik adhapik ekotipe. Kadang-kadang ekotipe terjadi karena pengaruh faktor iklim dan tanah disebut klimatik edhapik ekotipe. Pandey dan Jayan (1970) mempelajari Cenchrus ciliaris.
4. Altitudinal dan latitudinal ekotipe adalah suatu eotipe yang terjadi akibat perubahan tinggi tempat dan akibat perbedaan lintang seperti Cassia tora, Anagalis arvensis, Pinus dan Gymnospermae lain.
5. Fisiologik ekotipe yaitu ekotipe yang terjadi akibat perubahan fisiologis seperti penyinaran (photoperiode), absorbsi air, cyclus nutrien misalnya: Boutelona curtipendula.

EKOKLINE
Merupakan populasi-populasi dari sekelompok organisme-organisme dengan karakteristik yang berbeda secara teratur. Konsep ekotipe dari Turesson trenyata sangat terbatas penggunaannya. Gregor (1946) mengamati secara seksama 2 ekotipe dari Plantago maritime, dimana suatu ekotipe tumbuh di rawa garaman yang teratur tergenang oleh pasang tinggi dengan salinitas tanah mendekati 2,5%. Tumbuhan ini memilik dari daun pendek dan biji kecil.
Ekotipe lain menempati padang nonsalin jauh di pedalaman yang mempunyai daun lebih panjang, biji besar. Gregor mengumpulkan biji-biji tanaman tersebut kemudian menebarkannya. Gregor juga mengambil biji-biji tanaman yang berasa di daerah ekoton dan ditebarkan secara bersama pada suatu transek. Ia menemukan hasil bahwa perbedaan lapangan secara genetic tetap ada, akan tetapi perubahan tersebut menunjukkan suatu bentuk gradasi secara kontinu dari suatu bentuk ekotipe yang ekstrem ke bentuk ekotipe ekstrem lainnya. Tidak ada batas yang tegas antara dua ekosistem, apalagi suatu ekotipe dengan tumbuhan yang berasal dari daerah ekoton.
(Syamsurizal, 1999 : 16)


DAFTAR PUSTAKA

Dalim, Yeniwarti. 1999. Fitogeografi (Geografi Tumbuh-Tumbuhan). Padang:  
Universitas Negeri Padang.
McNaughton, S.J.1993. Ekologi Umum. Yogyakarta : UGM Press.
Odum, Eugene P.1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta : UGM Press.
Suin, Nurdin Muhammad.2002. Metoda Ekologi. Padang : Universitas Andalas.
Syamsurizal. 2000. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Padang: Universitas Negeri
Padang.
http://fp.uns.ac.id/~hamasains/ekotan%205.htm
http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html

PB09

Selasa, 10 April 2012

TIPE VEGETASI DAERAH TROPIS DAN DAERAH SEKITARNYA


TIPE VEGETASI DAERAH TROPIS DAN DAERAH SEKITARNYA

Daerah tropik merupakan daeeah di sepanjang garis khatulistiwa 23,5° LU – 23,5° LS, beriklim panas dan matahari bersinar sepanjang tahun. Perubahan suhu antara Januari-Desember sangat sedikit. Curah hujan sangat tinggi, merata 200-225 cm/tahun.

1. Hutan tropika basah
Tipe vegetasi ini merupakan formasi yang terdapat atau tersebar di daerah katulistiwa dan merupakan tipe vegetasi yang paling lebat dari semua tipe vegetasi yang ada. Vegetasi ini didukung oleh iklim tropis. Daerah Indonesia dari selatan dan ke timur yaitu Sumatera bagian timur, Kalimantan, Jabar, Sulawesi Tengah dan Irian.
Ciri- ciri hutan tropika tropis yaitu:
1) Daerah yang ditempati hutan tropika ini biasanya mempunyai topografi agak rata sampai bergelombang serta pada lereng-lereng gunung sampai ketinggian ± 1000 m. 
2) Hujan tahunan rata-rata 2000 – 4000 mm dengan suhu ± 25° – 26° C.
3) Kelembapan rata-rata sekitar 80%.
4) Kaya akan berbagai spesies.
5) Di dalam hutan tropika basah ini berkembang subur serangga, burung dan binatang – binatang seperti monyet, ular dan lain-lain.

Tumbuhan utama penyusun hutan tropika basah biasanya terdiri atas tujuh kelompok yaitu :
a) Pohon-pohon hutan 
-Lapisan paling atas (tingkat-A)
Pohon-pohon ini merupakan komponen structural utama. Yang disebut ”atap” atau ”tajuk” (”canopy”) yang terdiri atas tiga ”tingkat” atap (tajuk) dengan tingkat tertinggi (A) sering agak berjauhan dan agak jarang. Terdiri dari pohon-pohon sringgi 30-45 m. Pepohonan yang muncul keluar ini mencuat tinggi di atas sudut hutan, bertajuk lebar dan umumnya tersebar sedemikian rupa shingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang bersinambung. Bentuk khas tajuknya sering dipakai untuk mengenali speseies itu dalam suatu wilayah. Pepohonan yang mencuat itu seing berakar agak dangkal dan banir.
-Lapisan pepohonan kedua (tingkat-B)
Tingkat kedua (B) membentuk massa dengan ketinggian antara 15 – 30 m. Pepohonan ini tumbuh lebih berdekatan dan cenderung membentuk sudut yang bersinambung. Tajuk sering membulat atau memanjang dan tidak selebar seperti pohon yang mencuat.
-Lapisan pepohonan ketiga (tingkat C)
Kemudian pohon-pohon yang lebih pendek membentuk tingkat tiga (C); pada umumnya tingginya antara 5 – 15 m. Daun-daun umumnya berukuran sedang dan luas 2000 – 18000 mm2 Daun tersebut, biasanya tunggal, kaku berwana hijau tua dengan permukaan mengkilat. Pembuangan, pembuahan dan pergantian daun dapat kapan saja terjadi dalam setahun, sebab setiap jenis tumbuhan cenderung mempunyai waktunya sendiri-sendiri dalam hal berbunga, berbuah serta bertunas. Pepohonan disini sering mempunyai bentuk yang agak beraneka tetapi cenderung membentuk lapisan yang rapat, terutama di tempat yang lapisan keduanya tidak demikian.
Ketiga lapisan pohon ini juga juga bergabung dengan berbagai populasi epifit, perambat, dan parasit terutama bergantung pada kebutuhan cahaya dari tumbuhan yang bersangkutan.


b) Terna
”Terna” merupakan vegetasi yang lebih rendah yang terdiri dari berbagai jenis dan berkembang dibawah pohon-pohon yang lembab. Seperti paku-pakuan dan sejenisnya yang merupakan lapisan semak-semak . Biasanya tummbuhan golongan terna ini, tidak dapat berkembang dengan sempurna karena kekurangan cahaya. Tumbuhan terna ini lebih berkembang pada lereng-lereng karena kemungkinan lebih banyak mendapat cahaya matahari.
c) Tumbuhan pemanjat
Tumbuhan ini berkayu yang memanjat disebut ”liana”, tumbuhan ini dapat mencapai panjang 200 m memanjat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Ada juga jenis lain yang berduri sebagai alat untuk mencekal (mencengkram) pohon yang dipanjat seperti tumbuhan rotan.
Liana terdapat paling melimpah di tempat-tempat yang hutannya telah mengalami gangguan, seperti sepanjang tepi pantai. 
d) Epifit
Tumbuhan ini tumbuh melekat pada batang, cabang dan bahkan pada daun-daun. Epifit pada umumnya tidak menimbulkan pengaruh buruk pada tumbuhan inang yang tumpanginya. Kehadiran epifit pada hutan ini merupakan ciri-ciri yang membedakan hutan tropika basah dari pada komunitas hutan didaerah hutan sedang. Tumbuhan  epifit itu seperti misalnya anggrek, paku epifit, lumut-lumut pohon dan lain-lain. 
Epifit dalam hutan tropika basah dapat dibedakan dalam tiga tipe utama, sesuai dengan mikrohabitat yang berbeda-beda, yaitu
1) Epifita yan bersifat ekstrim xerofil
Hidup pada bagian paling ujung cabang-cabang dan ranting pohon yang lebih besar (inangnya) seperti beberapa jenis suku Bromeliaceae yang cukup menarik perhatian dan juga jenis kaktus.


2) Epifita matahari
Biasanya bersifat xeromorfik dan terutama terdapat pada bagian tengah tajuk inangnya dan sepanjang dahan-dahan yang lebih besar pada pohon-pohon penyusun tingkat teratas.
3) Epifita naungan
Terutama ditemukan pada batang dan dahan pohon-pohon dari lapisan C atau pada batang liana yang lebih besar.

e) Pencekik pohon
Tumbuhan ini, memulai kehidupannya sebagai epifit, kemudian mengirim akarnya tumbuh turun ke tanah, menyebabkan tidak lagi bergantung pada tumbuhan inangnya, tumbuhannya seperti ”ficus”.

f) Saprofit
Tumbuhan ini, mendapatkan zat haranya dari bahan organik yang mati, merupakan komponen heterotrop yang tidak berwarna hijau seperti cendawan, bunga raflesia mahillana. Bunga Raflesia ini tidak mempunyai daun atau batang, juga tanpa klorofil. Bunga langsung tumbuh dari akar inangnya. Bunga ini terkenal dengan nama bunga bangkai yang terdapat di Lampung—Sumatera. Tumbuhan Raflesia ini termasuk ”endemik” yaitu tumbuhan yang daerah agihannya hanya terbatas pada daerah terbatas atau pulau tertentu.

g) Parasit
Tumbuhan ini seperti benalu (loranthaceae) yang terdiri atas sejumlah besar jenis-jenis dan kadang-kadang terdapat dalam jumlah yang banyak diseluruh wilayah hutan tropika basah. Benalu ini merupakan semak berkayu terdapat dan tumbuh pada cabang-cabang pohon, yang dapat merugikan petani buah-buahan pohon keras.

2. Hutan tropika dengan irama musim
Pada umumnya vegetasi ini tumbuh di daerah dengan adanya irama musim, dan  bervariasi dalam formasi tumbuhan. Tumbuhan didaerah ini sebenarnya meliputi wilayah yang lebih luas. Hutan disini dapat diklasifikasikan menurut ketersediaan air yaitu : 
1)Hutan musim
Memiliki karakteristik seperti:
a. Hutan ini biasanya berkembang dengan adanya pergantian musim (musim kemarau dan hujan). 
b. Curah hujan biasanya lebih sedikit bila dibandingkan hutan tropika basah. Yaitu antara 100 – 200 cm setiap tahun. 
c. Hutan musim ini daerah persebarannya seperti di India, Birma, Indonesia dan juga terdapat pada tepi-tepi hutan tropika basah di Afrika, Malagasi, Indonesia khususnya Jawa Tengah dan Timur, Bali, Sulawesi Tenggara.
d. Vegetasinya tidak terlalu lebat. Hutan musim cenderung lebih terbuka, dengan pohon-pohon penyusunnya lebih berjauhan, sehingga cahaya dapat sampai ke tanah, biasanya hutan ini akan meranggas (menggugurkan daunnya) pada musim kemarau.
e. Vegetasi pada bagian bawah lebih subur dibanding dengan vegetasi bawah hutan tropika basah karena adanya sinar. Pada umumnya terdiri dari semak belukar, tumbuhan berumbi lapis dan semak-semak umumnya berbunga pada permulaan musim hujan. Dalam hutan ini biasanya terdiri dari 40 sampai 50 jenis pohon.

2) Lahan hutan sabana atau bentang lahan taman (Park land)
Memiliki karakteristik, seperti:
a. Hutan ini diketemukan di daerah-daerah yang musim kemarau lebih panjang dengan curah hujan tahunan lebih rendah dari pada didaerah hutan musim. 
b. Pohon-pohon tumbuhnya berjauhan kecuali didaerah aliran sungai. Tumbuhan ini adalah tumbuhan yang tahan terhadap kekurangan air. Pada musim kemarau, juga sering meranggas. 
c. Vegetasi hutan sabana tampaknya seperti taman, sebab kaya akan padang rumput yang diselingi pohon-pohon sehingga banyak binatang (hewan) pemakan rumput. Jarang sekali dijumpai tumbuhan liana dan epifita dikawasan hutan ini. Lahan hutan sabana di Indonesia ditemukan di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Timur, sebagian sempit wilayah Sulawesi Tenggara. Hutan sabana ini juga dapat muncul / terjadi pada daerah yang berhutan kemudian dirusak oleh manusia (dibakar).

3) Lahan hutan berduri
Mempunyai ciri- ciri, yaitu:
a. Iklim yang mempunyai musim kering yang panjang dan musim hujan lebat yang rendah dan singkat, dengan suhu tinggi sepanjang tahun 15 – 35° c dan presipitasi 40 – 90 cm/thn. 
b. Hutan berduri ini di daerah tropika biasanya bersifdat meranggas. Akar tumbuhan ini masuk tanah cukup dalam untuk mendapat air. Semak-semak berduri ini mencapai ketinggian 3 – 5 meter. Di wilayah Indonesia hutan berduri hanya dijumpai sedikit di wilayah Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur yang tanahnya terdiri dari kapur atau pasir dengan hujan yang sedikit dan jauh dari daerah aliran sungai (DAS).

4) Sabana dan lahan rumput lain didaerah tropika dan subtropika
Daerah sabana terdiri dari kayu yang tinggi dengan kondisi curah hujan ± 100 Cm / th dan terbagi selama 120 – 190 hari dengan kekeringan selama 6 -7 bulan. Sabana tampak sebagai taman, dimana daerah aliran sungai lebih banyak ditumbuhi pohon-pohon. Rumput tingginya berkisar antara 1 – 3 meter. Pohon–pohon yang ada biasanya tidak dijumpai seperti hutan dan umumnya banyak dijumpai dari jenis palma pohon-pohon khas dari jenis akasia. 

3. Hutan bakau (mangrove) dan vegetasi lain di tepi pantai daerah tropis
Tipe vegetasi ini mempunyai karakteristik tersendiri dan tersebar luas didaerah tropis dan subtropis yang disebut hutan bakau atau hutan mangrove (”mangrove forest” atau mangrove swamp forest”). Vegetasi ini tumbuh dan berkembang pada sepanjang pantai aluvial (tempat bermuara sungai-sungai) dan teluk-teluk. 
Hutan ini di Indonesia hampir didapati diseluruh pantai kecuali pantai-pantai curam. Misalnya pantai utara Jawa, pantai timur Sumatera, pantai Kalimantan dan Pantai selatan Irian. Hutan bakau di Indonesia sudah banyak yang rusak utamanya di pulau jawa. Hal ini menyebabkan terjadinya erosi (abrasi) pantai. 
Ciri hutan ini banyak dijumpai pohon- pohon seperti:
a. Pohon bakau banyak mempunyai akar tunjang, serta akar nafas yang timbul dari bawah lumpur. Kadang-kadang hutan bakau diganti oleh palma seperti pohon-pohon nipa (”nipafrunticaus”). 
b. Pohon nipa ini lebih banyak dijumpai dipantai-pantai yang tidak terlalu berlumpur dan banyak dijumpai dipantai di wilayah Indonesia bagian timur, seperti pantai Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian.
c. Sagu yang banyak tumbuh didaerah pantai merupakan bahan makanan penduduk Maluku (Indonesia Timur) setelah diolah melalui proses pengambilan sari patinya.
d. Terdapat juga vegetasi lain yang berkembang didaerah pesisir yang berpantai pasir seperti rumput gulung (”Spinifex littoreus), tapak kambing (”Ipomeaepes-caprae”) yang tumbuhnya merayap, pohon-pohon kecil seperti pohon pandan (”pandanus”) banyak diketemukan di pantai selatan Jawa dan pantai-pantai lain di Indonesia.
e. Selain dari itu tumbuhan pantai yang paling terkenal di Indonesia yang banyak tumbuh adalah kelapa yang banyak memberi ciri khas untuk pantai-pantai didaerah tropika. 

4. Vegetasi rawa air tawar / danau daerah tropis
Rawa-rawa air tawar di daerah cekungan atau tanah-tanah tergenang air sering ditumbuhi hutan rawa dan semak-semak gelagah (”reed”) serta berbagai macam komunitas gulma. Selain dari pada itu juga diketemukan tumbuhan kertas (Cyperus papyrus) ekor kucing (typha), maupun enceng gondok serta tumbuhan palma lain.
Pada daerah ini biasanya terjadi gambut, yang banyak diketemukan di Kalimantan, di plato Dieng dan lain-lain. Suatu hal yang karakteristik pada rawa gambut, biasanya didominasi oleh pepohonan yang tergolong dalam ”dicotyledoneae” pada tepi-tepi bekas rawa.
Pada awal mulanya rawa dipenuhi tumbuhan air yang terapung, kemudian disusul dengan tumbuhan berakar dengan daun-daun yang terapung seperti teratai, enceng gondok, dan disusul tumbuhan tahap rawa gelagah dan pada gilirannya akan terganti menjadi semak-semak atau hutan rendah.
Hal ini dapat dilihat dirawa pening atau bekas-bekas rawa yang rendah mulai punah oleh proses pengendapan dan suksesi tumbuhan (danau Tempe, danau sidenreng di Sulawesi Selatan). Demikian halnya dengan Kalimantan yang terkenal dengan tanah gambut yang cukup tebal.
Berdasarkan ketinggian tempat hutan tropis terdiri atas:
1. Hutan Tropis Dataran Rendah (0 – kurang dari 800 m dpl.) 
Famili penyusun hutan ini untuk wilayah Asia Tenggara, yaitu : Dipterocarpaceae, Annonaceae, Bombacaceae, Guttiferae, Sapindaceae, Euphorbiaceae, Dilleniacee, Leguminoceae, Meliaceae, Sterculiaceae.
2. Hutan Tropis Dataran Tinggi/ Pegunungan (800-1.500 m dpl.) 
Famili penyusun hutan ini untuk wilayah Asia Tenggara, yaitu : Fagaceae, Lauraceae, Myrtaceae, Araucariaceae, Juglandaceae.
3. Hutan Tropis Pegunungan Tinggi (lebih dari 1.500 m dpl.) 
Famili penyusun tipe hutan ini untuk wilayah Asia Tenggara, yaitu : Myrtaceae, Podocarpaceae. 

Tipe Hutan Tropis Menurut Iklim di Indonesia 
1. Hutan Tropis Basah 
Hutan tropis basah adalah hutan yang memperoleh curah hujan yang tinggi, sering juga kita kenal dengan istilah hutan pamah. Hutan jenis ini dapat dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Bagian Utara dan Papua. Jenis-jenis yang umum ditemukan di hutan ini, yaitu : Meranti (Shorea dan Parashorea), keruing (Dipterocarpus), Kapur (Dryobalanops), kayu besi (Eusideroxylon zwageri), kayu hitam (Diospyros sp). 
2. Hutan Muson Basah 
Hutan muson basah merupakan hutan yang umumnya dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur, periode musim kemarau 4-6 bulan. Curah hujan yang dialami dalam satu tahun 1.250 mm-2.000 mm. Jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan ini antara lain jati, mahoni, sonokeling, pilang dan kelampis. 
3. Hutan Muson Kering 
Hutan muson kering terdapat di ujung timur Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa. Tipe hutan ini berada pada lokasi yang memiliki musim kemarau berkisar antara 6-8 bulan. Curah hujan dalam setahun kurang dari 1.250 mm. Jenis pohon yang tumbuh pada hutan ini yaitu Jati dan Eukaliptus.
4. Hutan Savana 
Hutan savana merupakan hutan yang banyak ditumbuhi kelompok semak belukar diselingi padang rumput dengan jenis tanaman berduri. Periode musim kemarau 4 – 6 bulan dengan curah hujan kurang dari 1.000 mm per tahun. Jenis-jenis yang tumbuh di hutan ini umumnya dari Famili Leguminosae dan Euphorbiaceae. Tipe Hutan ini umum dijumpai di Flores, Sumba dan Timor. 
Tipe Hutan Berdasarkan Physiognomi 
Pada sistem klasifikasi ini dasar yang dipakai adalah ciri-ciri luar vegetasi yang mudah dikenali dan dibedakan, seperti semak, rumput, pohon dan lain-lain. Ciri lebih lanjut seperti menggugurkan daun, selalu hijau, tinggi dan derajad penutupan tegakan dapat pula diterapkan. Ciri-ciri yang umum digunakan yaitu : 
a. Tinggi vegetasi, yang berkaitan dengan strata yang nampak oleh mata biasa
b. Struktur, berpedoman pada susunan stratum (A, B, C, D dan E), dan penutupan tajuk (Coverage). 
c. Life-form atau bentuk hidup atau bentuk pertumbuhan, merupakan individu-individu penyusun komunitas tumbuh-tumbuhan. 
Contoh : 
1. Ciri physiognomi hutan tropis dataran rendah : 
Kanopi : 25 – 45 m
Tinggi pohon (emergent) : Khas, 60 – 80 m
Daun penumpu : Sering dijumpai
Elemen daun dominan : Mesophyl
Akar papan : Sering dijumpai dan sangat besar
Kauliflori : Sering dijumpai
Liana berkayu : Sering dijumpai
Liana pada batang : Sering dijumpai
Ephyphit : Sering dijumpai
2. Ciri physiognomy hutan tropis dataran tinggi/ pegunungan :
Kanopi : 15 – 33 m
Tinggi pohon (emergent) : Sering tidak ada
Daun penumpu : Jarang dijumpai
Elemen daun dominan : Mesophyl
Akar papan : Jarang dijumpai dan kecil
Kauliflori : Jarang dijumpai
Liana berkayu : Jarang dijumpai
Liana pada batang : Sering dijumpai
Ephyphit : Sangat sering dijumpai
3. Ciri physiognomi hutan tropis pegunungan tinggi :
Kanopi : 2 - 18 m 
Tinggi pohon (emergent) : Pada umumnya tidak ada
Daun penumpu : Sangat jarang  dijumpai
Elemen daun dominan : Microphyl
Akar papan : Pada umumnya tidak ada
Kauliflori : Tidak ada
Liana berkayu : Tidak ada
Liana pada batang : Jarang dijumpai
Ephyphit : Sering dijumpai
            
Di Indonesia berdasarkan ciri physiognomi tedapat dua tipe hutan yaitu : 
a. Hutan Hujan Tropis, hutan yang selalu hijau 
Hutan hujan tropis umumnya dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku bagian Utara dan Papua
b. Hutan musim atau hutan yang menggugurkan daun
Hutan musim yang menggugurkan daun dijumpai di Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku bagian Selatan. 

TIPE VEGETASI DAERAH SUBTROPIS DAN DAERAH DI SEKITARNYA

Daerah subtropik merupakan daerah yang terletak pada 23,5°-66,5° LU atau LS. Iklimnya disebut iklim sedang. Musim hujan muncul sepanjang tahun 75-100 cm/tahun. Memiliki 4 musim, yaitu:
1. Musim panas (summer)
2. Musim gugur (autum)
3. Musi dingin (aunter)
4. Musim semi (spring) 

Ciri vegetasi subtropik:
Adapun hutan yang ada yakni hutan peluruh, yang akan meluruh pada musim dingin dan akan bersemi kembali saat musim dingin selesai. Jumlah tumbuhan yang hidup lebih sedikit dibandingkan hutan daerah tropis. Biasanya tanaman ukurannya tinggi dengan jarak yang tidak rapat antara satu pohon dengan pohon lainnya, dan hampir tidak ada perdu di bawahnya.
Di daerah subtropika yang curah hujannya melimpah dan terbagi merata terdapat hutan basah (hutan hujan) yang serupa dengan hutan tropika basah, kecuali terdapatnya kecendrungan tidak begitu lebat dan didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan yang jumlahnya sedikit, dan mencakup unsur dari daerah iklim sedang, tetapi dengan jumlah flora yang lebih kecil. Seringkali dalam hutan subtropika basah terdapat liana dan epifit, demikian pula jenis pohon-pohonnya. Semakin jauh dari daerah tropika, tetapi masih dalam daerah hutan subtropika, jumlah spesies khususnya spesies pohon semakin berkurang dan berbagai corak fisiognomi dan tropika yang khas seperti terdapatnya banir berangsur-angsur menghilang.
Persebaran dari hutan subtropika diantaranya Australia bagian Timur, Asia Tenggara termasuk Cina bagian Selatan, Myanmar bagian Utara, serta Pantai Timur Amerika Selatan. Selain itu, terdapat beberapa daerah terpencil alam wilayah subtropika yang dalam keadaan menguntungkan, disana terapat hutan tak ranggas terpencil yang berdaun lebar, seperti hutan ayunan di Florida dan hutan pada tepian Rio de la Plata.



DAFTAR PUSTAKA

Arief, Arifin. 2002. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Ewusie, J. Yanney. 1990. Ekologi Tropika. Bandung: ITB.
http://muhsholeh.blogspot.com/2010/10/tipe-vegetasi-daerah-tropis-dan-daerah.html.
http://miagani.typepad.com/blog/2010.
Suhendang, Endang. 2002. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bogor: Yayasan Penerbit
Fakultas Kehutanan IPB
Tjitrosoepomo, Gembong. 1990. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu
Serumpun. Yogyakarta: UGM Press.

PB09